Halal Bihalal PRIM Riyadh, Gagas Ide Kerja Sama Hingga Pembinaan untuk PMI

pada April 19, 2026 Waktu Membaca 3 Menit

Pimpinan Ranting Istimewa (PRI) Muhamammadiyah Riyadh telah melaksanakan halal bihalal pada Sabtu, 18 April 2026 di Rumah Makan Syawarma House, Exit 12, Riyadh.

Acara yang berlangsung hangat ini dilaksanakan pada pukul 07.00 hingga 09.30 WAS.

Kegiatan dilaksanakan dengan obrolan santai sambil disisipi usulan-usulan untuk kemajuan PRIM.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Riyadh, Prof. Dr. Muhammad Irfan Helmy, Lc., M.A, yang hadir dalam acara ini, menyampaikan ungkapan syukur atas terlaksananya halal bihalal ini.

Atdikbud berharap ada kelanjutan dari kegiatan ini, seperti pertemuan rutin bulanan.

“Ingin ada pertemuan rutin sebulan sekali. Bisa di rumah atau memilih tempat yang sesuai,” kata Atdikbud.

Selain itu, Prof. Irfan juga berharap ke depan PRIM Riyadh dapat bekerja sama dengan lembaga tertentu untuk keberlangsungan studi kader Muhamammadiyah di Saudi.

“Kita bisa kerja sama dengan Yayasan Adi Luhung untuk pengajuan beasiswa,” ujar Prof. Irfan.

Yayasan tersebut, ujar Prof. Irfan, tidak di bawah Muhammadiyah, tapi para pengurusnya adalah para tokoh Muhammadiyah yang siap membantu kader persyarikatan yang ingin melanjutkan studi.

Sementara itu, Atase Hukum (Atkum) KBRI Riyadh, Dr. Erianto Nazar, S.H., M.H, yang hadir pada kesempatan ini, menimpali usulan Atdikbud.

“Bisa juga PRIM kerja sama dengan KBRI untuk melakukan pembinaan kepada teman-teman PMI yang berada di penampungan menunggu kepulangan ke tanah air,” kata Atkum.

Keberadaan para PMI di penampungan ini, lanjut Atkum, butuh bimbingan, terutama soal bacaan Al Quran dan praktek ibadah sehari-hari.

“Dari sekian banyak orang, hanya sedikit dari mereka yang bisa membaca Al Quran,” terang Atkum.

Pejabat Kejaksaan RI ini menegaskan, bagus jika para PMI diberikan bimbingan keagamaan, sambil mereka menunggu pulang ke tanah air.

Selain itu, pria asal Sumatera Barat ini juga berharap PRIM dapat memberikan keringanan bagi TKI yang kesulitan pulang.

“Mungkin bisa menjadi fasilitator dengan memberikan bantuan tiket bagi saudara-saudara kita yang mendapatkan nasib kurang baik ini,” terang Atkum.

Buya Erianto menanyakan kepada peserta yang hadir, para PMI yang bernasib kurang baik dan pulang tidak punya tiket ini apakah termasuk ke dalam orang yang berhak menerima zakat?.

Ustadz Fadhilah Adriansyah, mahasiswa S2 fikih dan ushul fikih King Saud University (KSU) merespon pertanyaan tersebut dengan menjawab: “Mereka termasuk Ibnu Sabil yang butuh pertolongan, dan itu masuk mustahik zakat.”

Menanggapi hal itu, Ketua PRIM Riyadh, Ustadz Muhammad Affan Basyaib, berharap kegiatan ini dapat terealisasi dan akan mendiskusikan dengan PCIM.

“Bisa nanti coba ajukan ke LazisMU,” ujar Ustadz Affan.

Acara halal bihalal berlangsung meriah, meskipun dilaksanakan dengan sederhana.

Tidak hanya peserta laki-laki, ibu-ibu juga ada yang hadir pada kegiatan ini.

Di akhir pertemuan, Ani Dwi Agustina, M.Pd.I, menyampaikan harapannya, semoga ke depan berdiri cabang Aisyiyah, sehingga peran kaum perempuan lebih maksimal lagi dalam beramar makruf nahi mungkar.

Fastabiqul khairat.

 

Oleh: PRIM Riyadh