‎3 Alasan Perawat Indonesia Kurang Diminati‎

pada May 15, 2026 Waktu Membaca 2 Menit

Data dari National Center for Health Workforce Planning Arab Saudi tahun 2025 menyebutkan bahwa ada sekitar 290 ribu perawat dan bidan yang aktif bekerja di layanan kesehatan di seluruh wilayah Kerajaan Arab Saudi (KSA).

Jumlah ini terbagi dalam 2 kategori yaitu tenaga kesehatan lokal (Saudis) dan mancanegara (Foreign), dengan jumlah keseluruhan yaitu 110 ribu perawat dan bidan lokal dan 180 ribu foreign.

Jika dipersentasekan maka kita menemukan perbandingan sekitar 37.93% tenaga kesehatan lokal dan 62.07% foreign. Data ini sekaligus membuka mata kita bahwa peningkatan jumlah tenaga kesehatan lokal mulai mengalami perubahan signifikan sejak tahun 2020.

Pencapaian besar Arab Saudi dalam menggesa lulusan bidang kesehatan patut menjadi contoh, karena ketergantungan pada foreign sangat tinggi meskipun di beberapa sektor mulai di eliminasi, sementara bidang kesehatan diharapkan persentasenya meningkat atau minimal setara jumlahnya di tahun 2030.

Perubahan mendasar mulai dari sistem rekrutmen, usia pensiun, dan penempatan tenaga lokal di manajerial telah dilakukan, dimana rekrutment mulai dilakukan pihak ketiga, usia pensiun turun dari 58 ke 52 tahu, dan sebagian besar orang Sudi memegang jabatan manajerial. Meski secara angka mereka kekurangan tenaga kesehatan, namun mereka punya cara agar foreign tidak betah.

Gambaran yang ada tentu memunculkan kebimbangan akan eksistensi perawat Indonesia di Arab Saudi. Data DPLN PPNI Arab Saudi menyebutkan bahwa jumlah perawat aktif yang terdata mencapai 824 orang, sementara bidan berkisar 400 orang. Adapun jumlah nakes yang belum terdata diperkirankan mencapai 200-300 orang.

Melihat data foreign perawat dan bidan, maka posisi perawat Indonesia belum mencapai 1% dari 180 ribu perawat dan bidan atau (0,61%). Data ini sekaligus menyiratkan bahwa daya tawar perawat kita masih rendah dan kurang diminati.

Setidaknya ada 3 alasan yang membuat perawat kita kurang diminati. Pertama, sistem pendidikan di negara kita yang belum mengintegrasikan kurikulum keperawatan secara internasional. Baru di mulai tahun 2024 melalui Politeknik dibawah Kementrian Kesehatan dimana pengantar bahasa Inggris telah dilaksanakan dan aktifnya kelas internasional.

Kedua, tenaga kesehatan kita cenderung kurang betah untuk tinggal lama di luar negeri. Perbedaan budaya dan lingkungan kadang membuat perawat dan bidan tidak melanjutkan kontrak kerjanya.

Ketiga, bahasa. Meski bukan sebagai faktor utama, namun kemampuan bahasa sangat berkaitan dengan performance dan menjadi syarat utama dalam bekerja.

Tiga alasan diatas mungkin subjektif, tapi realita dilapangan kadang tidak bisa dipungkiri bahwa proses rekrutmen mulai mengalami penurunan dari perekrutan oleh Kementrian Kesehatan Arab Saudi secara langsung ke perekrutan oleh pihak sawasta. Selain itu, jumlah perawat dan bidan kita yang masih dibawah 1% menjawab alasan rendahnya peminatan tersebut.

Penulis: Akhir Fahruddin, RN.,MPH  (Sekretaris DPLN PPNI Arab Saudi)

Artikel Terkait

PCIM Arab Saudi
December 18, 2024

Finibus Bonorum et Malorum

PCIM Arab Saudi
December 17, 2024

Fuga qui praesentium et

PCIM Arab Saudi
December 18, 2024

Excepteur sint occaecat

PCIM Arab Saudi
December 18, 2024

Et harum quidem rerum facilis