Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir melakukan silaturahmi ke KBRI Riyadh pada Senin, 1 Desember 2025.
Kehadiran tokoh muslim Indonesia ini ditemani oleh 15 rektor perguruan tinggi Muhammadiyah, disambut meriah di Wisma KBRI Riyadh.
Wakil Kepala Perwakilan, Sugiri Suparwan, Lc., MA, dalam sambutannya merasa bersyukur dapat dikunjungi oleh pimpinan organisasi Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia.
Sugiri memperkenalkan satu persatu staf KBRI yang hadir, mulai atase hukum, atase pendidikan dan kebudayaan, atase pertahanan, pelaksana Pensosbud, dan para lokal staf yang turut hadir.
Menurut Sugiri, pihaknya sangat terbuka dengan semua elemen masyarakat Indonesia, termasuk kepada para anggota Muhammadiyah yang ada di Arab Saudi.
“Bulan lalu, teman-teman PCIM Arab Saudi melaksanakan acara Musycab di KBRI. Kita sangat senang dengan kegiatan tersebut,” kata Sugiri.
Alumni Universitas Al Azhar Mesir ini berharap pihaknya dapat bekerja sama dengan Muhammadiyah untuk melakukan pembinaan kepada para WNI di Saudi.
“Masalah yang menimpa WNI di Saudi sangat banyak. Semakin kesini semakin meningkat,” ujar Sugiri.
Dirinya berharap, ke depan ada kegiatan kolaborasi antara KBRI dan Muhammadiyah, dengan mendatangkan para ahli ke Riyadh atau dengan cara daring.
“Saya percaya Muhammadiyah memiliki SDM yang unggul dari para pakar. Bisa nanti ke Riyadh untuk melakukan kegiatan pembinaan para WNI, atau bisa juga dengan cara daring,” papar Sugiri.
Menanggapi pernyataan DCM, Prof. Haedar mengatakan bahwa posisi Arab Saudi memang tidak bisa tergantikan oleh negara lain, karena ada 2 kota suci di dalamnya.
“Karena ada 2 kota suci, posisi Saudi tidak pernah tergantikan oleh negara manapun,” kata Prof. Haedar.
Cendekiawan muslim ini kemudian mengulas tentang konflik di Timur Tengah yang terus terjadi.
“Sampai kapan kita menghadapi kemelut Israel-Palestina?. Apa jalan keluarnya?,” tanya Prof. Haedar.
Guru besar dan dosen Ilmu Pemerintahan ini menilai, jika tidak ada konsolidasi maka usulan two state solution sulit terwujud.
Dunia Islam, lanjut Prof. Haedar, menampilkan Islam moderat sebagai jalan tengah untuk menghadapi permasalahan.
“Sampai saat ini hanya berhenti di forum-forum internasional dan melahirkan deklarasi,” terang Haedar.
Adanya deklarasi tersebut, lanjutnya, apakah menghasilkan perubahan?.
KHGT untuk Persatuan Umat Islam
Terkait dengan perselisihan dan perbedaan yang menimpa umat Islam saat ini, pria kelahiran Bandung, 25 Februari 1958 ini, melalui Muhammadiyah, sedang mengupayakan penggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).
Dihadapan forum, alumni UGM ini menanyakan: “Kenapa kami menghadirkan KHGT?.”
Suami Siti Noorjannah ini mengatakan bahwa upaya penggunaan kalender global adalah untuk mengakhiri ketidaksamaan penentuan awal dan akhir Ramadhan.
Menurut ayah 3 anak ini, penggunaan KHGT merupakan metode yang sangat ilmiah dan berdasarkan ilmu pengetahuan yang pasti.
“Ini sesuatu yang eksak,” kata Prof. Haedar.
Terkait dengan kasus banyaknya TKI yang bermasalah di Arab Saudi, Prof. Haedar berharap agar KBRI mampu menjadi jembatan yang kokoh.
“KBRI mesti punya peran besar untuk penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi para TKI,” terang Haedar.
Untuk masalah yang dihadapi, menurutnya, Muhammadiyah siap berkolaborasi dengan KBRI.
“Kami ini seperti talang air yang menjadi mediator. Bukan untuk kami,” papar Prof. Haedar.
Berharap WNI di Saudi Berikan Marwah Positif
Menurut Prof. Haedar, jumlah jamaah umrah, haji dan bahkan pekerja asal Indonesia sangat banyak di Saudi. Hanya saja, kuantitas yang banyak ini kurang memiliki marwah yang positif.
“Jamaah haji dan umrah kita seperti dijadikan guyonan di imigrasi. Seperti direndahkan,” kata Prof. Haedar.
Membandingkan sikap petugas imigrasi, Prof. Haedar menyebut dengan kejadian di Eropa.
“Beda sekali pelayanan imigrasi di sini dengan yang di Eropa. Kami di sini disuruh ini dan itu,” terang Prof. Haedar.
Padahal, kata Prof. Haedar, dalam surat Al Hujurat ayat 13 sudah jelas tentang perbedaan suku bangsa yang bermacan-macam.
“Atau memang pola relasi mereka seperti itu ya? Mudah-mudahan sih bukan karena pandangan jelek ya,” tegas Prof. Haedar.
Penulis: Budi Marta Saudin