Silaturahim Bersama DR. Agung Danarto menekankan Tafaqquh Fiddin dan Spirit Tajdid bagi Kader Muhammadiyah di Saudi

pada January 30, 2026 Waktu Membaca 2 Menit

Arab Saudi – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi kembali menggelar acara Temu Tokoh yang bertempat di Rumah Dakwah Buya Hamka. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bagi para kader persyarikatan yang tengah menempuh studi di Tanah Suci untuk mempertegas arah gerakannya, yakni tafaqquh fiddin (mendalami agama) demi membawa pencerahan saat kembali ke tanah air.
Dalam pemaparannya, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. menekankan pentingnya meneladani semangat KH. Ahmad Dahlan. Sebagaimana sang pendiri yang belajar mendalami agama lalu pulang membawa pemikiran pembaharuan (tajdid), kader Muhammadiyah hari ini diharapkan memiliki spirit serupa. Hadir juga Dr. Hj. Widiastuti, S.Ag. M.Μ. (Ketua PWA DIY 2022-2027).

Menghadapi Tantangan Pemikiran dengan “Politik Nasi Box”
Diskusi menyoroti dinamika pemikiran Islam yang berkembang, mengenang masa-masa awal tahun 2000-an di mana akses terhadap pemikiran tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh sempat dibatasi. Menghadapi spektrum pemikiran—baik yang destruktif maupun yang menawarkan kebaharuan “nakal”—Muhammadiyah memposisikan diri dengan pendekatan yang unik, yang dalam forum ini diistilahkan sebagai “Politik Nasi Box”.

Filosofi ini menggambarkan sikap moderat (wasathiyah) yang mengedepankan dialog, saling pengertian, dan toleransi dalam mengambil kesimpulan akhir, tanpa harus kehilangan prinsip. Muhammadiyah dipahami sebagai gerakan yang tidak terlalu ke kiri maupun ke kanan, melainkan fokus pada peneguhan dan pengokohan gerakan amal.

“Yang bisa membangkitkan dan menyuntikkan ruh Islam biasanya bukan liberal. Semua unsur dan elemen bergerak menonjolkan kontribusi sesuai bidangnya, bukan konfliknya,” ujar pak Agung. Beliau juga mengingatkan agar pengajian Muhammadiyah tidak menyinggung perdebatan agama yang tidak perlu, membiarkan ranah perdebatan hanya bagi mereka yang ahli (faqih), dan menjaga keharmonisan di kalangan awam.

Jejaring “Social Village” dan Harapan Ulul Albab
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah rasa syukur atas kesempatan istimewa bisa menimba ilmu di Arab Saudi. Para kader didorong untuk memperkuat jejaring lintas kelompok.

Di era social village saat ini, jejaring pertemanan menjadi aset dakwah yang sangat berharga. “Kita tidak pernah tahu perjalanan hidup seseorang, siapa yang kelak akanmenjadi tokoh lokal atau nasional. Maka, komunikasi skala internasional ini adalah modal penting untuk mengefektifkan dakwah di masa depan,” tambahnya.

Acara ditutup dengan harapan besar agar para kader PCIM Arab Saudi kelak pulang sebagai Ulul Albab—kaum intelektual yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu membawa arah yang mencerahkan bagi umat dan bangsa.

Penulis : Ahmad Fawzy Najamuddin

Artikel Terkait

PCIM Arab Saudi
December 22, 2024

Voluptas minima delectus ut et.

PCIM Arab Saudi
December 18, 2024

Itaque earum rerum hic