Ustaz Rasyid Anwaruddin: Dari Keterbatasan Menuju Perjuangan Dakwah dan Perkaderan

pada October 15, 2026 Waktu Membaca 5 Menit

Ustaz Rasyid lahir di Madiun pada tahun 1980. Beliau berasal dari keluarga yang berkekurangan. Namun, keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti belajar dan berjuang. Sejak muda, beliau memiliki semangat yang kuat untuk mencari penghasilan, bahkan hasil yang diperoleh digunakan untuk membiayai pendidikan beliau sendiri.

Semangat tersebut mengantarkan beliau menjadi pribadi yang sangat serius dalam pendidikan. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 sebagai lulusan terbaik, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan doktoral pada tahun 2023.

Sejak menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren, beliau sudah aktif mengajar. Beliau mengajar di MI dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Di samping aktivitas pendidikan, beliau juga aktif dalam organisasi. Beliau pernah menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah dan dipercaya memimpin beberapa lembaga lainnya.

Pengabdian tersebut kemudian mengantarkan beliau dipercaya menjadi takmir masjid besar di Madiun. Beliau juga menjadi salah satu pelopor pembangunan MBS Prof. Hamka serta terlibat dalam pengelolaan berbagai panti. Panti-panti tersebut tidak hanya dikelola sebagai tempat tinggal anak-anak, tetapi dikembangkan dengan suasana pendidikan dan pembinaan seperti pondok pesantren.

Saat ini, beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua PDM Madiun sekaligus Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah di Jawa Timur. Berbagai pengalaman dan pencapaian beliau menunjukkan bahwa perjuangan di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan perkaderan dapat berjalan secara bersamaan.

Muhammadiyah Harus Membuka Pintu Seluas-Luasnya

Salah satu perhatian besar beliau adalah masalah perkaderan Muhammadiyah. Menurut beliau, Muhammadiyah harus membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkontribusi dan berjuang.

Pelajar dan mahasiswa, khususnya mereka yang sedang menempuh pendidikan agama, baik di dalam maupun luar negeri, perlu diberikan ruang untuk mengenal dunia dakwah dan organisasi. Mereka perlu diberikan kesempatan untuk terjun langsung, merasakan pengalaman berdakwah, kemudian membawa pengalaman tersebut untuk disebarluaskan di tengah masyarakat.

Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi ruang bagi orang-orang tertentu. Sebaliknya, Muhammadiyah harus menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, berjuang, dan memberikan manfaat.

Setiap Kita Memiliki Kewajiban Berdakwah

Beliau mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam QS. Ash-Shaff ayat ke-3:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dengan kata-kata. Apa yang kita sampaikan harus tercermin dalam amal dan perjuangan kita. Namun, dakwah juga membutuhkan bekal. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan pentingnya berjuang dengan harta terlebih dahulu, kemudian dengan diri. Karena itu, perjuangan dakwah membutuhkan kesiapan ilmu, tenaga, waktu, pikiran, bahkan harta.

Perkaderan adalah Pekerjaan Berat, tetapi Pahalanya Besar

Beliau juga menyampaikan bahwa pekerjaan perkaderan memang bukan pekerjaan yang ringan. Dalam sebuah perjuangan, ada orang yang menjadi pelopor, ada yang menjadi pelangsung, dan ada pula yang menjadi penyempurna.

Menjadi pelopor biasanya jauh lebih berat karena harus memulai sesuatu yang belum ada. Banyak tantangan, penolakan, dan kesulitan yang harus dihadapi. Namun, jangan takut dengan beratnya pekerjaan tersebut. Percayalah, pekerjaan yang berat dalam kebaikan memiliki pahala yang besar di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Karena itu, jangan hanya mencari pekerjaan yang mudah. Sesekali kita harus berani mengambil bagian dalam pekerjaan yang berat karena di sanalah sering kali terdapat kebermanfaatan yang lebih besar.

Memberi, Bukan Hanya Berharap Diberi

Aktif dalam organisasi sosial dan dakwah berarti kita benar-benar belajar untuk memberikan, bukan terus-menerus berharap untuk diberi. Ketika seseorang memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk kebaikan, Allah SWT akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Beliau menceritakan pengalaman pribadi tentang bagaimana Allah memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupannya. Mulai dari pernikahan, kemampuan membeli rumah, hingga berbagai bentuk rezeki lainnya yang sebelumnya tidak pernah beliau bayangkan. Semua itu menjadi pengalaman bahwa ketika seseorang berjuang di jalan Allah, rezeki tidak selalu datang dalam bentuk yang kita perkirakan.

Rezeki yang Diperoleh dalam Dakwah Akan Lebih Berkah

Beliau juga mengingatkan bahwa jangan sampai kita sibuk mencari rezeki kemudian melupakan kewajiban dakwah. Jika seluruh waktu hanya digunakan untuk mencari rezeki, mungkin secara materi kita mendapatkan lebih banyak. Namun, rezeki tersebut bisa kehilangan keberkahannya karena hanya dinikmati untuk diri sendiri. Sebaliknya, ketika rezeki yang kita miliki juga digunakan untuk kemaslahatan orang lain, di situlah keberkahan dapat dirasakan.

Beliau bahkan menceritakan pengalaman bagaimana keberkahan rezeki sangat terasa ketika beliau terlibat dalam pengelolaan panti. Ketika kita mengurus anak-anak yang membutuhkan, membantu pendidikan mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka, ternyata Allah memberikan rezeki dengan cara-cara yang tidak pernah kita sangka.

Perkaderan Harus Turun Langsung ke Masyarakat

Dalam mempelopori perkaderan, kita tidak cukup hanya menunggu orang datang kepada kita. Kita harus benar-benar turun ke lapangan, bertemu langsung dengan masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan berbagai kelompok lainnya. Dengan turun langsung, orang-orang akan mengenal kita. Dari sana mereka juga akan mengenal Muhammadiyah, mengenal nilai-nilai perjuangannya, dan akhirnya memiliki kesempatan untuk ikut berkontribusi.

Perkaderan bukan hanya tentang membuat kegiatan di atas kertas. Perkaderan adalah tentang bertemu manusia, membangun hubungan, mendampingi, mengajak, dan memberikan ruang untuk tumbuh bersama.

Pentingnya Amal Jama’i

Perjuangan dakwah tidak mungkin dilakukan seorang diri. Kalau hanya mengandalkan kemauan dan kemampuan pribadi, kita akan cepat merasa lelah dan akhirnya merasa sendirian dalam perjuangan.

Di sinilah pentingnya amal jama’i. Dengan amal jama’i, kita menyadari bahwa perjuangan ini bukan milik satu orang. Ada orang lain yang membantu, ada yang menguatkan, ada yang melanjutkan, dan ada yang menyempurnakan. Kita tidak merasa sendirian ketika berbuat.

Karena itu, tugas kita bukan hanya menjadi orang yang baik secara pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang lebih besar. Perjuangan dakwah membutuhkan ilmu, harta, tenaga, kesabaran, dan kebersamaan.

Dan pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa banyak yang kita terima dari perjuangan ini, tetapi seberapa banyak yang mampu kita berikan untuk agama, persyarikatan, dan kemaslahatan umat.

Muhibuddin S.