Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi resmi menggelar acara “Temu Haji Muhammadiyah” pada Selasa, 2 Juni 2026 yang bertempat di Hotel Asala Al-Bakiyah, kota Mekkah. Acara ini dihadiri oleh ratusan jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya diikuti oleh ratusan jemaah, pertemuan ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak dengan hadirnya sejumlah tokoh penting. Kehadiran Wakil Menteri Haji dan Umrah, Pak Dahnil anzar Simanjuntak di tengah-tengah acara menjadi sorotan utama, sekaligus menjadi simbol sinergi antara organisasi dakwah dan negara dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji yang lebih baik di masa depan.
Selain itu, tampak hadir pula K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., selaku ketua Umum Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kemudian Drs. H. Muhammad Ziyad, M.Ag., selaku Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kemudian Dr. Rohimi Zam Zam, S.Psi., S.H., M.Pd., selaku Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, serta Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., selaku Ketua Umum MUI Sumatera Barat, sekaligus Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua PCIM Arab Saudi, Dicky Dzulqornain, BRIKH., yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pesan dan kesan yang menggugah dari perwakilan jemaah haji, yaitu dari Prof. Dr. Ir. Sukamta, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., yang merupakan rektor Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA). Dalam refleksi spiritualnya, beliau menekankan bahwa ibadah haji merupakan sarana untuk memupuk ketundukan, keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan.
“Di Arafah, jemaah belajar makna penghambaan. Di Muzdalifa, diajarkan kesederhanaan. Di Mina, belajar melawan hawa nafsu. Dan di hadapan Ka’bah, jamaah menyadari bahwa derajat manusia di hadapan Tuhan hanya dibedakan oleh ketakwaannya.” Ungkap beliau.
Kemudian, sambutan selanjutnya disampaikan oleh Drs. H. Muhammad Ziyad, M.Ag., yang menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah karena telah Allah pilih untuk bisa berangkat haji tahun ini. Dan beliau juga menegaskan bahwa setelah haji, jamaah harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dalam beribadah, bersosial, etos kerja, dan bernegara.
Di antara seluruh rangkaian sambutan tersebut, pemaparan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Pak Dahnil Anzar Simanjuntak, menjadi poin krusial yang menekankan urgensi sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi yang solid antarlembaga merupakan kunci utama dalam memperkokoh standar pelayanan yang lebih responsif dan humanis, demi menjamin kenyamanan serta kemaslahatan seluruh jemaah haji Indonesia di masa depan.
Dalam sesi pemaparan, para jemaah memberikan respon positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan haji yang dinilai lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terkait hal tersebut, pak Dahnil Anzar Simanjuntak, memberikan penekanan khusus kepada seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Ia menegaskan bahwa KBIHU adalah institusi pembimbingan ibadah, bukan entitas bisnis. “Jangan jadikan jemaah haji dan umrah sebagai komoditas, tetapi jadikan mereka sebagai subjek ibadah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan gagasan “Tri Sukses” yang harus menjadi tolok ukur dalam pelayanan haji dan umrah. Konsep tersebut mencakup tiga aspek utama: sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban. Sebagai penutup, ia memberikan pesan khusus kepada seluruh mursyid atau pembimbing haji dan umrah Muhammadiyah agar senantiasa mengarahkan jemaah untuk menjaga ketertiban, kedisiplinan, serta tetap mematuhi tata kelola yang ditetapkan oleh negara.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi doa penutup yang dipimpin oleh Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., sebagai bentuk ikhtiar spiritual demi mengokohkan keberkahan jemaah serta memohon perwujudan esensi kemabruran haji yang telah ditunaikan.
Diharapkan melalui forum ini, terjalin simpul-simpul persaudaraan yang kokoh di antara para jemaah, sehingga mampu menciptakan ruang saling menguatkan dalam merawat spirit ibadah pasca-haji.
penulis: Ahbib Wildan Sholihi