Pererat Persaudaraan di Tanah Rantau, PCIM Arab Saudi Gelar Halal bi Halal dan Soroti Makna Ukhuwah

pada March 25, 2026 Waktu Membaca 3 Menit

MADINAH — Pada hari Senin (23/3/2026), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi sukses menggelar acara Halal bi Halal. Bertempat di Istirohah Platinum, acara ini menjadi momentum spiritual sekaligus ajang silaturahmi yang sarat makna bagi para kader persyarikatan yang tengah menuntut ilmu dan berjuang di tanah rantau.

Ketua PCIM Arab Saudi, Ust. Dicky Zulkarnain Tamy, BIRKH. dalam sambutannya membuka acara dengan menekankan pentingnya agenda ini bagi para diaspora Indonesia. “Acara ini diadakan salah satunya sebagai sarana temu hangat antar kader yang sedang berada jauh di tanah rantau,” ujar Ust. Dicky. Kehadiran para kader di momen ini diharapkan mampu merekatkan kembali ikatan emosional dan saling menguatkan di tengah jauhnya jarak dari tanah air.

Urgensi Ukhuwah dalam Kacamata Islam

Puncak acara diisi dengan tausiyah mendalam oleh Ust. Singgih Pamungkas, M.A., anggota Lajnah Fatwa MT3 PCIM Arab Saudi. Mengangkat tema krusial bertajuk “Menjalin Ukhuwah”, beliau membedah urgensi persaudaraan dalam kacamata syariat Islam.

Ust. Singgih menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang harus memperhatikan persaudaraan antarsesama. Beliau menyebutkan bawha Al-Qur’an dan Hadits sudah secara gamblang menyoroti hal tersebut.

“Dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat ke-10 ditegaskan yang berarti ‘Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara’. Allah juga berfirman dalam surah At-Taubah ayat ke-71 yang artinya ‘orang-orang mukminin dan mukminat itu sebagiannya menjadi wali bagi sebagian yang lain’” papar Ust. Singgih. Beliau merincikan bahwa makna wali dalam ayat tersebut setidaknya mencakup dua hal mendasar, yaitu: Mahabbah (cinta dan kasih sayang) dan nusroh (saling tolong-menolong)

Sebagai wujud aplikasi nyata dari ayat tersebut, Ust. Singgih mengingatkan sejarah tentang langkah strategis pertama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat tiba di Madinah, yakni mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Adab Berbeda Pendapat: Teladan dari Ibnu Taimiyyah

Menyikapi dinamika sosial masa kini, Ust. Singgih memberikan teladan luar biasa dari ulama terdahulu tentang bagaimana menyikapi perbedaan. Ia mengutip perkataan Ibnu Qayyim tentang gurunya, Ibnu Taimiyyah.

“Ibnu Qayyim menyebutkan, ‘Aku ingin sekali memperlakukan sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah memperlakukan musuh-musuhnya.’ Ibnu Qayyim juga bersaksi bahwa Ibnu Taimiyyah tidak pernah mendoakan keburukan bagi musuh-musuhnya,” terang Ust. Singgih.

Kisah ini, lanjut beliau, menunjukkan akhlak sosial yang agung di mana perbedaan pendapat tidak semestinya membuat umat Islam memutus hubungan sosial.

“Debat, diskusi, dan berbeda pendapat tidak melazimkan kita untuk saling membenci. Justru kita harus bisa tetap bermuamalah dengan siapapun. Tentu saja, ketika ada yang salah tetap harus kita katakan salah secara objektif. Perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah belah,” tegasnya.

Menunaikan Hak Ukhuwah Menurut Imam Al-Ghazali

Lantas, bagaimana seharusnya seorang muslim menunaikan hak-hak persaudaraan? Merujuk pada kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Ust. Singgih memaparkan beberapa poin penting:

  1. Alhubbu Fillah: Mencintai seseorang murni karena Allah atau karena keimanannya kepada Allah SWT.
  2. Selektif Memilih Teman: Memilih teman yang baik dan benar, karena tidak semua orang cocok untuk dijadikan teman dekat atau sahabat karib.
  3. Memenuhi Keperluan Saudara: Terutama saat mereka sedang membutuhkan bantuan. Ust. Singgih mencontohkan kisah haru para ulama salaf yang rela memastikan kecukupan kebutuhan hidup keluarga sahabatnya yang meninggal dunia hingga 40 tahun lamanya.
  4. Menjaga Lisan: Memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui pada keadaan seperti apa kita harus diam, dan kapan keadaan yang mengharuskan kita untuk berbicara.
Pesan Khusus untuk Kader di Tanah Rantau

Sebagai penutup tausiyahnya, Ust. Singgih menitipkan nasihat khusus kepada para kader mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Arab Saudi. Beliau memotivasi mereka untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.

“Maksimalkan waktu yang ada sekarang. Bawalah bekal ilmu sebanyak-banyaknya untuk berdakwah di Indonesia nanti. Jangan sampai mengisi waktu kuliah di sini hanya dengan banyak berleha-leha dan bersantai saja,” pungkasnya memberikan semangat.