ABHA, ARAB SAUDI – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi menggelar agenda “Sapa PRIM” (Safari Ranting) di wilayah Abha. Pertemuan strategis ini berlangsung pada 7 Maret 2026 yang mempertemukan jajaran Badan Pimpinan Harian (BPH) PCIM Arab Saudi dengan para pengurus Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Abha untuk menyinkronkan gerak dakwah di level akar rumput.
Transformasi Dakwah: Dari Sirriyah ke Jahriyah
Ketua PRIM Abha, Ustadz Rifal Rudiansyah, mengungkapkan perjalanan panjang Muhammadiyah di wilayah tersebut. Setelah melewati fase sirriyah (tertutup) pada tiga tahun pertama untuk menjaga stabilitas, kini gerak Muhammadiyah di Abha telah bertransformasi menjadi gerakan yang masif dan terang-terangan.
“Kegiatan Safari Ranting ini sangat membuka wawasan. Kami menyadari banyak kegiatan yang selama ini belum menyentuh akar rumput secara maksimal. Ke depan, kami melihat potensi besar kolaborasi dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Abha melalui kajian yang sudah dirintis oleh Ketua Tabligh kami, Ustaz Annas Dzul ‘Arsyi,” ujar Rifal.
Metafora Pembangunan: Pondasi, Perabot, dan Atap
Dalam kesempatan yang sama demisioner ketua prim abha pertama, Ustadz Nurhidayat memberikan gambaran filosofis mengenai sejarah kehadiran tokoh-tokoh PCIM Arab Saudi di Abha. Ia mengibaratkan perkembangan ini seperti membangun sebuah rumah.
Pondasi: Diletakkan oleh Ustadz Hamka yang merupakan ketua PCIM Arab Saudi ke-3 pada masa awal didirikannya PRIM Abha
Kemudian Perabot: Dilengkapi oleh Ustaz Dzulfiqor Ahmad Rabbadi selaku ketua Lembaga Pengembangan Ranting Istimewa (LPRI) dimasa kepemimpinan ustadz Hanif Asaduddin.
Dan terakhir ialah Atap: Fase kedatangan rombongan dari PCIM Arab Saudi saat ini yang berfungsi menaungi dan menyempurnakan bangunan dakwah di Abha.
Menyatukan Cabang dan Ranting
Mewakili BPH PCIM Arab Saudi, Ustadz Dicky menekankan bahwa Ranting adalah “lumbung” utama kegiatan Muhammadiyah. Agenda Sapa PRIM yang diinisiasi oleh Majelis Pembinaan Kader dan Ranting Istimewa (MPKRI) ini bertujuan untuk menyamakan persepsi.
“Penting bagi kita untuk ‘menikahkan’ program di tingkat ranting dan cabang agar lebih mesra dalam berkolaborasi. Dakwah dan perkaderan harus tetap menjadi ruh utama di periode ini,” tegasnya.

Suasana Diskusi bersama PRIM Abha
Fokus Kaderisasi Ulama dan Literasi
Aspek intelektual juga menjadi sorotan. Ustadz Erwin Febriadi menyampaikan amanah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjaga regenerasi ulama muda melalui Majelis Tarjih dan Tabligh. Fokus utamanya adalah melahirkan kader yang menguasai maharatul ilqo’ (keterampilan berbicara) yang fasih dan bermakna luas.
Sementara itu, Ustadz Abdullah Fikri menambahkan bahwa sosialisasi kampus-kampus di Arab Saudi dan keberadaan PCIM melalui Safari Madrasah akan terus ditingkatkan sebagai pintu masuk dakwah bagi mahasiswa. Untuk mendukung ini, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) menyarankan adanya pelatihan penulisan terstruktur bagi para anggota.
Kesiapan PRIM Abha menjadi Tuan Rumah Musyawarah Cabang PCIM Arab Saudi selanjutnya.
Sebagai penutup rangkaian diskusi, PRIM Abha secara resmi menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah Musyawarah Cabang (Musycab) PCIM Arab Saudi di masa mendatang, mengingat kota abha ini sangat terkenal sebagai kota wisata diarab saudi sehingga sangat tepat sebagai tempat bermusyawarah sekaligus refreshing para kader Muhammadiyah se-Arab Saudi nantinya. Hal ini disambut positif sebagai bentuk kemandirian dan semangat juang kader di wilayah Selatan Arab Saudi tersebut.
Penulis : Masykur Al Abdi