Sapa PRIM, PCIM Arab Saudi Tempuh 12 Jam Perjalanan demi Konsolidasi dan Penguatan sayap dakwah persyarikatan di Kota Najran

pada March 12, 2026 Waktu Membaca 2 Menit

NAJRAN, ARAB SAUDI – Menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Kota Madinah tidak menyurutkan semangat jajaran Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi untuk menyambangi PRIM Najran Kamis, 5 Maret 2026. Kunjungan ini menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan program kerja dengan kondisi riil ranting di wilayah perbatasan negeri yaman tersebut.

Semangat Persyarikatan dari Selatan Arab Saudi

Ketua PRIM Najran yang diwakili oleh Muhammad Avif, menyambut hangat kehadiran rombongan. Ia menyatakan bahwa kunjungan langsung ini memberikan suntikan semangat bagi para anggota di tengah tantangan geografis. “Alhamdulillah, struktur PRIM Najran telah terbentuk secara formal dan solid berkoordinasi dengan PCIM Arab Saudi dengan target kegiatan kedepannya membuka komunikasi masif kepada WNI di Najran serta rencana kolaborasi dengan PPMI Najran dalam kajian strategis seperti fiqih kontemporer ataupun Himpunan Putusan Tarjih (HPT)”.

Namun lanjutnya, “kondisi dilapangan dikarenakan luasnya area kampus menjadi tantangan mobilitas yang memerlukan dukungan pendanaan yang cukup besar.” Ucap Avif yang juga ketua PPMI Najran

Strategi Majelis Tarjih, Tajdid dan Tabligh (MT3) dan Diplomasi

Ketua PCIM Arab Saudi, Ustadz Dicky Dzulqarnain, menegaskan bahwa MT3 adalah ujung tombak periode ini karena mayoritas anggotanya adalah mahasiswa.

“Olehnya itu PCIM siap menerbitkan “Surat Utusan” bagi kader yang ingin berdakwah di tingkat PRM/PCM saat di Indonesia guna memperkuat legitimasi.” tuturnya

Adapun kegiatan yang juga sedang dalam tahap penyusunan ialah Sekolah Diplomasi sebagai persiapan menyongsong Simposium PCIM Dunia yang diinisiasi oleh Lembaga Kerjasama dan Hubungan Internasional (LKHI) PCIM Arab Saudi.

Suasana diskusi santai bersama PRIM Najran

Menjawab tantangan dan Realitas alumni saudi di Masyarakat

Wakil Ketua 1, Ustadz Erwin Febriadi, memberikan evaluasi mendalam mengenai kesiapan mental mahasiswa. Beliau menyoroti dua fenomena yang menjadi titik fokus, pertama ialah “Banyak mahasiswa mumpuni secara teori namun kurang dalam teknik penyampaian (public speaking). Hal ini menjadi kendala saat harus terjun sebagai muballigh” tuturnya.

Belum siap secara mental hadir ditengah masyarakat

Mahasiswa timur tengah atau saudi secara khusus seringkali berharap disambut hangat saat pulang, padahal kenyataan di lapangan penuh dengan problematika sosial yang kompleks. Kader diminta siap menghadapi realitas, bukan sekadar teori.

Menghidupkan kolaborasi kegiatan antar sesama ranting maupun di cabang.

Merespons pertanyaan mengenai cara menghidupkan ranting di Arab Saudi, Diki menjelaskan bahwa komunikasi akan terus dijalin secara terbuka. Ranting-ranting yang masih merasa “mengawang” atau belum stabil akan didampingi secara intensif melalui diskusi rutin agar selaras dengan gerakan di Madinah, Makkah, dan PRIM aktif lainnya.

Penulis : Masykur Al Abdi