Banyak orang merindukan Madinah karena suasananya yang penuh ketenangan.
Padahal, mungkin alasan sebenarnya adalah karena kita lelah harus selalu terlihat tegar.
Terbiasa kuat bertahan dari segala terpaan ujian dan masalah yang datang tak henti.
Berpura-pura baik-baik saja, padahal jiwa kita sebenarnya sedang runtuh.
Namun di Madinah, semua topeng itu melelahkan, lalu tersingkap bersama air mata.
Hidup kita biasanya penuh dengan target dan berpacu dengan angka.
Tetapi ketika di Madinah, pikiran terasa lebih jernih dan melambat.
Napas terasa lebih lega dan menyejukkan.
Doa-doa tak perlu dirangkai panjang, namun terasa sangat dalam.
Mungkin terdengar bukan solusi instan, tapi feel-nya…
Rahmat Allah terasa begitu dekat dan sangat menenangkan.
Di Madinah, kita bertemu banyak jamaah dengan cerita yang serupa:
Masalah yang tak kunjung usai,
Ekonomi yang sedang sulit,
Keluarga yang sedang sakit,
Hingga masalah jodoh yang terasa berat.
Namun, semua keluh kesah itu selalu diakhiri dengan kalimat yang sama,
“Masya Allah, entah kenapa hati tak segelisah itu lagi ketika di Madinah.”
Mengalah, memaafkan, dan menerima diri sendiri terasa lebih mudah di sini.
Seakan-akan Rasulullah berbisik dengan nada yang halus,
“Tenang… kamu sudah bertahan sejauh ini.”
Madinah akan selalu menjadi kota yang dirindukan karena kita merasa diterima apa adanya.
Tak dituntut menjadi ini dan itu.
Tak mesti kelihatan kuat setiap waktu.
Di Madinah…
Istirahat karena capek itu boleh.
Duduk diam dan melamun itu boleh.
Bahkan menangis pelan-pelan pun tak apa.
Kita jadi paham, bahwa Islam yang Allah sampaikan melalui manusia terbaik-Nya tak selalu datang dalam bentuk jawaban instan.
Seringnya, ia datang dengan cara yang lebih indah,
Ketenangan dan rasa penerimaan.
Dengan terisak, kita akan berkata tak ingin pulang dari sini.
Bukan sekadar karena kotanya,
Tapi karena di sini kita bertemu versi diri kita yang lebih jujur,
Terlepas dari topeng kuat yang selama ini kita pakai demi tuntutan hidup.
Namun, perjalanan harus berlanjut menuju Makkah.
Saat roda kendaraan mulai meninggalkan ketenangan Kota Nabi,
Pikiran kita melayang membayangkan perjuangan Rasulullah ketika Hijrah.
Mungkin kita tak akan sanggup jika berada di keadaan beliau saat itu.
Diusir dari kota kelahiran sendiri,
Hanya ditemani bebatuan hitam, tanah yang tandus, dan padang pasir yang terpampang luas.
Kini, kita menelusuri jalan itu dengan senandung “Labbaik Allahumma Labbaik”.
Sambil tersedu-sedu, kita menuju ke Makkah sebagai hamba yang penuh permintaan.
Langkah demi langkah, air mata kian mengalir deras.
Ketika mata akhirnya menatap Ka’bah…
Tangis itu pecah.
Bukan hanya karena haru,
Tapi karena sadar kita hanyalah hamba yang lelah dan tak tahu harus mulai dari mana lagi.
Namun, dengan Maha Baik-Nya, Allah menyambut kita,
“Selamat datang di rumah-Ku, di kota suci-Ku. Sini, berceritalah wahai hamba-Ku. Mintalah dan panjatkan doa-doamu.”
Puncak air mata tak terbendung lagi.
Kita sadar kita hanyalah pendosa ulung,
Tapi Allah sebaik itu, masih mau menerima kita bertamu di Rumah-Nya.
Madinah Kota Nabi,
Jumat, 2 Januari 2026 ~ 16:30
Adi Fiqriyan Syah