Meneladani Buya HAMKA: Catatan Diskusi PCIM Arab Saudi Bersama Pendiri Sekolah Pemikiran Islam

pada January 9, 2026 Waktu Membaca 2 Menit

Arab Saudi – Pagi hari Jumat, 9 Januari 2026, PCIM Arab Saudi mengadakan kegiatan bincang santai terkait Buya HAMKA, diskusi ini dihadiri langsung oleh Ustaz DR. Akmal Sjafril yang menyempatkan waktunya hadir di sela-sela ibadah umrohnya. Beliau merupakan salah satu pegiat dalam dakwah pemikiran Islam dan sering meng-counter pemikiran liberalisme dan pluralisme di Indonesia khususnya.

Di awal pertemuan ini, pendiri Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ini membahas tentang kiprah dari Buya HAMKA dan biografinya, banyak sekali insight yang bisa kita ambil. Di antara kebesaran tokoh beliau, sampai dikatakan “Jakarta tidak pernah sepi kecuali karena tiga hal, pertama ialah mudik lebaran, kedua pertandingan tinju Muhammad Ali, dan ketiga kajian tafsir dari Buya HAMKA di radio.”

Melanjutkan penjelasannya, “Di Indonesia sendiri beliau ulama yang sangat keras menentang sekularisme, kristenisasi dan pluralisme. Framing sebagian loyalis paham liberal bahwa HAMKA menyetujui pluralisme adalah kesalahan fatal. Dan hal tersebut telah kami bedah dalam tesis kami di Universitas Ibn Khaldun dengan judul “Buya HAMKA antara kelurusan akidah dan pluralisme.”

Di akhir pertemuan beliau memaparkan hasil analisisnya, ada tiga hal luar biasa yang dilakukan oleh Buya HAMKA pada tahun wafatnya yakni pada tahun 1981. “Pertama, ialah Keluar dari MUI Pusat, karena menolak dicabutnya fatwa akan haramnya perayaan natal bersama bagi seorang muslim. Kedua, Menyelesaikan Tafsir al-Azhar dan diterbitkan beredar secara bebas. Ketiga, konsistensi menjaga waktu shalat selama perawatan di ICU sampai akhir hayat padahal beliau dalam kondisi dibius berat oleh tim kesehatan yang kita pahami lepasnya kewajiban shalat fardhu”.

Diskusi santai ini berjalan dengan lancar dan syahdu yang dihadiri oleh beberapa rekan-rekan pengurus PCIM Arab Saudi, di akhir beliau menyampaikan “Buya HAMKA adalah manusia biasa, kesalahan dari beliau pasti ada, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita meneladani kebaikan beliau dan menghormati keilmuannya”. Ucap salah satu pendiri Indonesia Tanpa JIL (ITJ)

Semoga Allah merahmati Buya HAMKA. Aamiin yaa robbal alamin

Penulis: Ahbib Sholihi